MESSI MEMBALAS EJEKAN DENGAN KESUKSESAN

MESSI MEMBALAS EJEKAN DENGAN KESUKSESAN

(sumber: sport.detik.com)

Saat reporter dari media Korea Selatan sedang melaporkan hasil pertandingan antara Arab Saudi dengan Argentina di luar lapangan, tiba-tiba seorang fans Arab Saudi mendatangi repoter tersebut dengan bertanya "Where is Messi?" (Di mana Messi?). Momen singkat itu viral lantaran pertanyaan tersebut merupakan ejekan untuk Messi atas kekalahan Timnas Argentina atas Arab Saudi dengan skor 2-1. Tak berhenti di situ, ejekan untuk Messi terus membanjiri media sosial dalam berbagai bentuk pascakekalahan yang cukup memalukan tersebut. Terlebih lagi, dalam ajang piala dunia itu, pesaing Messi, Ronaldo berhasil membawa kemenangan bagi Portugal atas Ghana. Messi benar-benar jadi sasaran empuk ujaran kebencian di media sosial.

Ujaran kebencian terhadap Messi karena kegagalannya meraih prestasi bersama Timnas Argentina tidak hanya terjadi baru-baru ini. Itu adalah kisah lama yang terus berulang. Semua bermula dari kesuksesan Messi di Barcelona yang berbanding terbalik dengan torehannya di timnas. Debut Messi bersama Timnas Argentina bermula dari gelaran Piala Dunia tahun 2006 di Jerman. Debut itu tak berjalan baik. Langkah Messi dkk. terhenti oleh Jerman di babak perempat final. Setahun berikutnya Messi dan Timnas Argentina mencoba peruntungan di ajang Copa Amerika. Meski melaju sampai babak final, Messi dkk. gagal juara karena kalah dari Brasil. Sejak saat itu, perjalan Messi bersama Timnas Argentina tak pernah berjalan mulus.

Asa meraih titel juara dunia datang pada ajang Piala Dunia tahun 2014 di Brasil. Messi berhasil membawa Argentina sampai ke final pesta sepak bola empat tahunan itu untuk bertarung melawan Jerman. Sayang, Gol Mario Gotze pada menit 113 menggagalkan impian Messi. Kegagalan demi kegagalan terus menghantui Messi baik di piala dunia maupun Copa America. Ujaran kebencian terus berdatangan, baik dari fans lawan maupun fans Argentina sendiri. Tak segan, mereka membakar jersey dan poster Messi di jalan-jalan. Messi menjadi kambing hitam atas semua kegagalan Argentina. Saking parahnya sentimen fans, legenda Argentina, Diego Maradona pernah bilang kalau kekalahan Timnas Argentina U-15 pun akan dianggap sebagai kesalahan Messi. Begitulah beban yang harus dipikul pria kelahiran Rosario.

Jika dilihat dari apa yang Messi raih di Barcelona dengan timnas Argentina mungkin bisa diterima secara logika tindakan fans tersebut. Bersama Barcelona, Messi meraih segalanya. Mereka bahkan pernah merengkuh enam tropi dalam satu musim. Messi sendiri sangat kecewa dengan dirinya hingga sempat memutuskan untuk pensiun dari timnas Argentina. Namun, beberapa orang membujuk Messi dan meyakinkannya untuk terus berjuang bersama Timnas Argentina. Perjuangan Messi pun kembali dilanjutkan.

(sumber: www.sportingnews.com)

Penantian panjang mulai berbuah manis ketika pelatih Lionel Scaloni menangani Timnas Argentina. Tahun 2021, secara mengejutkan, Argentina berhasil jadi juara Copa America mengalahkan Brasil dengan skor 1-0. Tren kemenangan berlanjut memenangi ajang Finalissima melawan Italia dan terbaru menjadi juara dunia dalam Piala Dunia tahun 2022 setelah menghempaskan Prancis melalui drama adu penalti. Dalam ketiga turnamen itu, Messi selalu menjadi pemain terbaik.

Perjuangan Messi selama 16 tahun melawan ujaran kebencian, perundungan, dan stigma negatif berbuah manis. Ia memenangi semua hal yang selama belasan tahun ini diperjuangkan. Ia berhasil membungkam ujaran kebencian dengan kesuksesan. Pertanyaan "Di mana Messi?" telah terjawab dengan lantang: "Messi di atas podium" tanpa perlu perdebatan.

Apa yang dilakukan Messi dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita dalam mengapai cita-cita. Perjalanan meraih cita-cita bukanlah jalan tol yang mulus tanpa hambatan, melainkan jalan terjal berbatu dan berliku. Perjalanan yang hanya dapat dilalui dengan keberanian dan kegigihan dibarengi cucuran keringat, air mata, bahkan darah dalam setiap langkahnya (dalam Copa Amerika 2021, tampak kaki Messi berdarah setelah benturan dengan pemain lawan). Hambatan datang dari berbagai penjuru. Ejekan, ujaran kebencian, dan perundungan menjadi rantai baja yang memaksa kita untuk berhenti dan tenggelam dalam keterpurukan.

Seperti Messi yang kecewa pada dirinya dan ingin menyudahi perjuangan, kita juga tentu akan berada pada tahap itu. Namun, Messi bangkit dan mulai kembali memercayai impiannya. Hasilnya, ia meraih segalanya. Begitu pun kita seharusnya. Ada kalanya kita lelah dan ingin berhenti. Itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, jangan padamkan semangat. Sejenak berhenti boleh saja, asal jangan lupa untuk bangun kembali dan berjuang lagi, seperti Messi. Semua penghalang, termasuk ujaran kebencian dari tetangga julid atau teman-teman kurang kerjaan hanya bisa dibungkam dengan kesuksesan. Kesuksesan hanya datang pada mereka yang tak pernah berhenti berjuang.

 

M. Imam