MENTAL KEDASIH
Tahu cara burung Kedasih menetaskan dan membesarkan anak-anaknya? Burung Kedasih akan mencari sarang burung lain yang ditinggal sebentar oleh induknya. Tanpa sepengetahuan pemilik sarang, burung Kedasih yang sudah "kebelet" akan meletakkan telurnya secara diam-diam di dalam sarang itu. Selanjutnya, burung Kedasih akan pergi dan meninggalkan telurnya begitu saja untuk dierami pemilik sarang. Burung pemilik sarang, misalnya burung Pipit yang tidak menyadari jumlah atau perbedaan telurnya akan mengerami semua telur tersebut.

Sumber gambar: https://www.hipwee.com
Selanjutnya apa yang terjadi pada telur Kedasih? Sebagaimana telur burung pada umumnya, telur Kedasih akan dierami induk “sambungnya” hingga menetas. Jika menetas duluan, (ini yang menarik) bayi Kedasih tidak segan-segan mendorong keluar telur-telur lain hingga jatuh. Namun, Jika menetas bersamaan atau belakangan, bayi Kedasih tanpa belas kasihan mendepak bayi-bayi lain keluar sarang hingga terjatuh dan mati. Inilah tabiat Kedasih. Menyingkirkan pesaing agar perhatian induk burung hanya fokus padanya. Induk burung Pipit yang “lugu” akan terus merawat bayi Kedasih yang sudah dianggap sebagai anak semata wayangnya hingga dewasa. Setelah merasa bisa mandiri, Kedasih muda akan pergi meninggalkan induk Pipit begitu saja.
Kisah hidup Kedasih ini sangat unik dan sarat pembelajaran. Sikap oportunis Kedasih barangkali pernah juga kita temukan dalam kehidupan. Bisa jadi bukan sekadar ditemukan, melainkan kitalah Kedasih itu, yaitu orang-orang yang haus perhatian serta mementingkan diri sendiri dengan tidak segan-segan menyingkirkan orang lain demi mendapatkan apa yang diinginkan. Dalam karier misalnya, keserakahan pada harta, jabatan, nama baik, atau perhatian atasan seringkali membuat kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Semisal menyingkirkan rekan kerja dengan cara menyebar aib atau berita palsu, menjelek-jelekan nama baik, menjatuhkan mental teman yang ingin berkarya, dan sebagainya. Dalam pertemanan, baik di sekolah atau lingkungan misalnya, keserakahan pada perhatian orang yang kita sayangi atau kagumi, sahabat, guru, atau yang lainnya menjadi legitimasi untuk menyakiti atau menghalangi langkah orang lain. Itulah mental Kedasih.
Sial betul jika Mental Kedasih ini melekat dalam diri kita. Terlebih lagi di era kolaborasi seperti sekarang ini. Kolaborasi mengedepankan visi menang bersama, mencapai tujuan yang sama dengan prinsip saling membantu, bukan mental Kedasih yang hanya ingin menang sendiri dengan segala cara. Budaya menang bersama dan saling mendukung tentunya akan melahirkan lingkungan yang sehat untuk berkembang dan berprestasi. Untuk itu, marilah menciptakan lingkungan kerja atau belajar yang sehat dengan menyingkirkan mental Kedasih dalam diri kita.
Penulis: M. Imam