KEBAHAGIAAN YANG DIRENGGUT

KEBAHAGIAAN YANG DIRENGGUT

Kebahagiaan yang Direnggut

Sebuah Cerpen

 

“Selamat ya Adi, tahun ini kamu jadi peringkat pertama lagi di kelas,” ucap Bu Guru sambil melihat rapor Adi.

Di kelas yang sedikit lembap dikarenakan langit baru saja meneteskan air mata, jam dinding kelas yang sudah tak berdetak, dan remah-remahan kapur yang ada di bawah papan tulis, ada Adi yang tersenyum-senyum mengetahui bahwa ia berhasil lagi pada tahun ini.

“Weeeh, kapten kita lagi nih yang peringkat satu,” celetuk Kelfin sambil bertepuk tangan tanda bangga kepada Adi.

“Nanti kita latihan bola lagi kan kapten?” tanya Kelfin.

Adi yang perasaannya masih terbang tinggi di atas awan hanya mengangguk. Sore ini memang jadwal latihan sepak bola. Selain menyukai olahraga sepak bola, ia juga penggemar klub sepak bola. Adi adalah seorang Aremania. Ia sangat mengagumi klub sepak bola Arema FC. Adilson Maringa pemain idolanya.  Ia sangat berharap bisa bertemu langsung dengan idolanya itu.

“Pasti dong! Seperti biasa, setelah Kakek pulang kita ke lapangan,” jawab Adi.

Berbeda dengan kebanyakan anak lainnya, Adi tidak tinggal seatap dengan orang tuanya. Bahkan, siapa orang tuanya pun, Ia tak tahu. Adi tinggal bersama Kakek yang merawat dan menyayanginya sedari kecil.

Manusia, makhluk selalu dipenuhi rasa penasaran, begitu juga dengan Adi, seiring berjalannya waktu, rasa penasaran itu semakin meluap-luap di dirinya. Kepalanya dipenuhi rasa penasaran.

“Siapa sebenarnya orang tua kandungnya?”

kalimat itu seakan selalu berlari-lari mengelilingi isi kepala Adi. Setiap Adi melontarkan pertanyaan kepada Kakek tentang orang tuanya, Kakek pasti akan mengerutkan dahi dan menjawab: “Memang kenapa? Kan Adi sudah ada Kakek,”

“Tetapi kan Adi hanya ingin tahu, Kek,” ujar Adi.

“Oh ya, Adi ingat kan kita akan ke rumah pak Iwan sore ini, ayo cepat bersiap!” sambung Kakek.

Ya, Kakek seolah-olah selalu mencari alasan untuk menghindar dari pertanyaan Adi tersebut. Sudah sering Adi menanyakan pertanyaan yang sama, namun usaha Adi bak memindahkan air menggunakan sumpit. Usaha Adi semuanya sia-sia. Hingga pada akhirnya Adi menyerah untuk menanyakan hal yang sama lagi. Dalam hatinya, ia membenarkan pernyataan Kakek.

“Benar juga Kakek, kan Aku sudah ada kakek.”

Kakek melihat Adi bagaikan mutiara yang ia punya, bagaikan emas yang Ia simpan, dan bagaikan air yang selalu ia butuhkan. Ia akan berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan cucunya itu. Akan tetapi, ada satu hal yang sangat dikhawatirkan Kakek. Kekhawatiran bak ular yang melilit leher Kakek itu ialah rasa takut jika  malaikat dan Tuhan telah sepakat untuk menarik jiwa Kakek ke langit, meninggalkan cucunya sendirian di dunia yang licik, dunia yang kejam, dan dunia yang suram. Setiap malam Kakek selalu berdoa agar badannya tetap sehat dan tak meninggalkan cucunya di dunia sendirian.

***

 Tiga puluh September menjadi tanggal bahagia bagi Kakek dan Adi karena pada tanggal itu Tuhan memutuskan untuk membiarkan Adi terjun ke dunia. Tanggal 29 September tahun 2022, Kakek berdiri di depan kalender di ruang tamu. Ia melihat di kalender bahwa besok adalah tanggal 30 September, hari ulang tahun cucunya. Saat melamun di kala bingung hadiah apa yang harus diberikan untuk ulang tahun cucunya, tiba-tiba angin seakan-akan membawa memori Kakek saat Ia tak sengaja mendengarkan pembicaraan antara cucunya dan temannya ketika sedang belajar bersama di ruang tamu rumahnya. Kakek mendengar kalau Adi sangat ingin menyaksikan pertandingan antara Arema melawan Persebaya yang akan digelar di stadion Kanjuruhan.

Terpacu pada hal tersebut, Kakek membulatkan tekad menabung untuk memenuhi keinginan cucu kesayangannya tersebut. Pernah ada yang bertanya pada Kakek tentang rasa sayangnya pada Adi.

“Memangnya seberapa besar sih rasa sayang Kakek ke Adi?” tanya Seseorang

“Pertanyaan itu sama saja seperti pertanyaan: memangnya seberapa besar sih alam semesta ini? Aku ya tak tahu. Yang pasti sulit diukur,” jawab Kakek.

Kakek Adi hanyalah seorang pengayuh becak. Pendapatannya pun hanya cukup untuk sekadar menyelimuti rasa lapar dan dahaganya sehari-hari. Tetapi, karena rasa sayang kepada cucunya yang begitu dalam, Kakek berhasil menyisihkan penghasilannya dan menukarkannya dengan dua carik tiket untuk menonton pertandingan sepak bola yang sangat diinginkan Adi. Bahkan, Kakeknya rela mengurangi porsi makan agar sisa uangnya bisa Ia tabung untuk membeli tiket.

Waktu bergulir begitu cepat. Cucu kecilnya kita telah genap 14 tahun. Sembari menatap tiket yang baru dibelinya, Kakek menahan air mata kebahagiaan di pelupuk matanya.

“Adi, ayo ke sini!” panggil Kakek.

Mendengar suara Kakek, Adi bergegas mennghampiri.

“Ada apa kek?” tanya Adi.

“Selamat ulang tahun ya, Adi. Terima kasih kamu telah menjadi cucu yang sangat membanggakan,” tutur Kakek.

“Ingin sekali Kakek memberikan sesuatu untukmu di hari ini. Kakek sempat bingung sampai akhirnya Kakek memutuskan. Kakek sudah menabung agar kita bisa bersama-sama merayakan ulang tahunmu dengan menonton pertandingan Arema melawan Persebaya,” sambung Kakek.

Seketika suasana hening, bahkan suara cicak pun sudah tak terdengar oleh telinga Adi. Adi terkejut. Perasaannya campur aduk. Di satu sisi Ia sangat senang, di sisi lain Ia  tak percaya jika Ia dan Kakeknya akan menonton pertandingan sepak bola bersama-sama. Selagi perasaanya yang masih dicampur aduk oleh realita, Adi bertanya pada Kakeknya dengan suara yang terbata-bata.

“Yang benar kek?” tanya Adi.

Kakek hanya menjawab dengan tersenyum sembari menganggukan kepala. Seketika muka Adi langsung tersenyum lebar dan Ia segera memeluk erat Kakeknya.

“Terima kasih ya, Kek. Adi janji, jika Adi sudah sukses nanti, Apapun yang Kakek minta, pasti akan Adi berikan,” ucap Adi.

Mendengar perkataan tersebut Kakek Adi hanya tersenyum, perkataan tersebut tajam, setajam silet yang menyilet hati Kakek, tajam karena rasa sesak dan benaknya yang seakan membisikkan perasaan tak yakin jika Ia akan tetap hidup hingga cucunya sukses. Tanpa disadari, selagi Kakek memeluk Adi, air mata Kakek sudah berhasil meresap ke pipi Kakek. Kakek meneteskan air mata karena terbayang jika cucunya sudah besar dan tak memerlukan bantuannya lagi. Tersadar jika matanya mengeluarkan air mata, Kakek dengan segera menyeka air matanya sebelum cucunya tahu.

“Sudah, besok pagi Adi bangun. Siap-siap dan kita langsung berangkat ke Kanjuruhan,” ucap Kakek. Adi tersenyum dan mengangguk.

Gelap menjadi terang. Bulan berganti posisi dengan matahari. Suasana cerah dan hangat menyelimuti badan. Kicauan burung bersahutan seakan bersenandung menyambut mentari. Hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Adi telah tiba. Adi sudah bangun sebelum cahaya mentari sempat menyelinap ke kamarnya. Adi langsung bergegas membangunkan Kakeknya. Kakek terperanjak dari mimpi indahnya. Adi bersiap-siap, Ia pastikan tak ada sehelai rambut yang berantakan. Setelah semuanya siap, mereka akhirnya pergi menuju Kanjuruhan menggunakan becak Kakeknya. Jarak antara tempat tinggal Adi dan stadion tujuannya tak begitu jauh sehingga menggunakan becak pun tak menjadi masalah bagi mereka.

Kakek yang mengayuh becak dan Adi yang duduk di kursi becak sangat bahagia hari ini, wajah mereka tak kalah cerah dari cerahnya cahaya sang mentari. Angin sejuk seakan-akan mengajak pepohonan ikut menari-nari merayakan hari ini. Saat menikmati perjalanan, tiba-tiba Kakek bertanya.

“Adi senang tidak hari ini?”

“Tentu dong, Kek. Malahan bisa dibilang hari ini adalah hari yang paling bahagia yang Adi pernah rasakan,” jawab Adi.

Ucapan Adi merasuk ke jiwa Kakek bagaikan plaster yang mengobati rasa lelah kakeknya selama ini.

Tak terasa mereka sudah sampai di Kanjuruhan. Mata Adi terbuka lebar kagum saat Ia melihat stadion yang sangat besar. Setelah Kakek mengurus tiket, mereka masuk dan duduk di kursi yang sudah mereka bayar. Pertandingan pun dimulai, Adi sangat fokus menyaksikan pertandingan. Pandangannya hanya tertuju pada pertandingan, seakan-akan Ia juga terlibat dalam pertandingan tersebut.

Pertandingan terlangsung sangat sengit. Jual beli serangan terjadi penuh ketegangan. Gol demi gol tercipta bersamaan dengan gemuruh sorak-sorai penonton di Kanjuruhan. Ada yang berbeda pada pertandingan kali ini. Jika sebuah pertandingan sepak bola biasanya ditonton oleh suporter dari kedua belah pihak, kali ini Kanjuruhan hanya dipenuhi oleh Aremania. Kebijakan penyelenggara liga dan aparat keamanan tidak memperbolehkan Bonek hadir di lapangan demi alasan keamanan. Puluhan ribu suporter tuan rumah ternyata tidak membawa Dewi Fortuna pada Arema.

Skor 3-2 untuk Persebaya bertahan hingga peluit akhir menjadi bukti bahwa Arema FC kalah dalam pertandingan. Melihat senyuman di wajah cucunya yang memudar, Kakek ingin membuat rasa kecewa Adi menghilang.

“Tak apa, kekalahan bukan akhir dari segalanya. Kakek yakin sehabis pertandingan ini, Arema akan memperoleh pelajaran baru dan berkembang menjadi yang lebih baik,” hibur Kakek.

Mendengar perkataan Kakeknya, pemikiran Adi tentang kekalahan kali ini berubah.

“Ya, Kakek benar.  Terima kasih ya Kek kare….” belum sempat Adi menyelesaikan kalimatnya, Ia terkejut saat melihat ada suporter yang turun ke lapangan untuk memberikan semangat pada para pemain. Melihat beberapa suporter turun, suporter lain mengikuti.

Semakin lama semakin banyak suporter yang turun ke lapangan. Seketika lapangan dipenuhi lautan manusia. Para pemain diamankan oleh petugas menuju ruang ganti. Riuh bergemuruh. Suasana semakin tak terkendali. Orang-orang berlari, berteriak, berkerumun. Tiba-tiba, entah dari mana, sebuah bola asap pecah di lapangan. Asap mulai merebak. Tak lama, bola-bola asap lainnya mulai berterbangan.

“Gas Air mata!” teriak seseorang.

Karena gas air mata yang terbang dan terjun ke sana ke mari, semua orang akhirnya ditutupi rasa panik. Mata, pikiran, dan gerakan mereka telah diambil alih oleh rasa panik. Mereka berbondong-bondong lari menuju pintu keluar stadion, kerumunan itu seperti tsunami yang mencoba melewati celah kecil antara dua gedung. Kericuhan semakin parah. semua orang sudah tak memikirkan orang lain dan sibuk melarikan diri.

Adi dan Kakeknya hampir saja berhasil menggapai pintu keluar. Akan tetapi karena banyak orang  yang berebutan memasuki pintu itu, Adi dan Kakeknya terseret-seret hingga genggaman Kakeknya terlepas. Adi dan Kakeknya bak terpisah karena derasnya arus tsunami. Kakeknya sudah ada di dalam pintu exit, sedangkan Adi masih tersangkut kerumunan. Adi mencoba berteriak sekeras mungkin untuk memanggil kakek. Tangannya Ia julurkan untuk berusaha menggapai tangan Kakek. Tiba-tiba “DBUKK!!” Kakek tertendang oleh salah satu orang yang berusaha keluar dari stadion. Kakek terjatuh dan karena kondisi yang sangat tidak kondusif, Kakek semakin terinjak-injak oleh orang lain.

Adi terkejut hingga tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya bisa berdiri melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Kakeknya yang merawatnya dari kecil sesak nafas berdesak-desakan, dan tertendang-tendang, bahkan terinjak-injak oleh orang ramai. Adi melihat muka Kakeknya yang berdarah-darah, Ia masih mencoba berteriak memanggil Kakeknya

“KAKEKK!!, BANGUN KEK, AYO KESINI, PEGANG TANGAN ADI KEK!!”

Akan tetapi hasilnya nihil. Kakeknya tak bangun dan masih terinjak-injak oleh orang.

Hati Adi hancur lebur. matanya terpaku pada Kakeknya yang sudah tak bernyawa. Ia tak menyadari bahwa pipinya sudah dibasahi oleh air mata. Hatinya sangat hancur. Bahkan ketika Adi tersenggol, tertendang, dan terpontang-panting di tengah kerusuhan, Ia tak merasakan sakit sedikit pun. Satu-satunya rasa sakit yang sangat Ia rasakan adalah menyadari fakta bahwa Kakeknya yang sangat Ia sayangi sudah tak bernyawa dengan cara yang tragis.

Kepala Adi terasa ingin pecah. Ia bingung harus bagaimana. Ia bingung apa yang telah terjadi. Ia bingung mengapa semua ini harus terjadi pada dirinya. Otaknya bahkan sudah menyihir perasaan Adi sehingga Ia berpikir jika semua ini adalah salahnya. Jika saja Ia tak menginginkan hal yang tak penting seperti ini, maka kejadian hari ini tak akan terjadi. itulah yang Adi pikirkan saat ini.

“EGOIS, SEMUA ORANG EGOIS!!, AKU TAK SALAH APA-APA, KAKEKKU TAK SALAH APA-APA, TAPI MENGAPA KEJADIAN TAK ADIL INI MALAH BERLABUH DAN BERHENTI PADA DIRIKU,” teriak Adi di tengah kerumunan.

Tetapi seperti yang sudah Adi pikirkan, tak ada satu pun orang yang peduli. Beberapa orang memang tak akan pernah berubah, tetap egois. Kadang yang perlu kita lakukan hanyalah menerimanya.

Ketika semua orang berlari keluar stadion, Adi dengan tatapan kosong berbalik arah sembari kembali memasuki stadion dengan tujuan untuk mengakhiri hidupnya. Ia seperti ikan yang menuju jaring dikala ikan lain berusaha menjauhi jaring. Adi berpikir jika Ia sudah tidak ada tujuan untuk hidup. Orang yang paling Ia sayangi di dunia sudah tak ada. Saat berjalan menuju lapangan, tentu  saja gas air mata menyelimuti tubuhnya. Matanya mulai memerah dan terasa sangat perih, Ia sangat sulit bernafas. Hidungnya nyeri, tenggorokannya sakit, kepalanya sangat pusing, dan penglihatannya sudah kabur.

Menyadari bahwa gas air mata masih belum cukup untuk menghabisi nyawanya, Adi langsung berlari menuju kerumunan orang yang berdesakan menuju pintu keluar lagi. Ia memaksakan tubuh mungilnya masuk dan terhimpit ratusan orang. Kepalanya makin pusing, sulit baginya untuk bernafas. Badannya serasa ingin meledak dan pada akhirnya, karena kekurangan oksigen, Adi pergi ke atas langit menyusul Kakeknya.

Ya, stadion Kanjuruhan menjadi saksi bisu betapa tragisnya bencana yang terjadi pada hari itu, ratusan orang tak bersalah kehilangan nyawa karena kebodohan yang disebabkan oleh beberapa orang. Sama seperti Adi dan Kakeknya, orang-orang yang datang ke stadion Kanjuruhan pasti berpikir hari di mana Ia datang untuk menyemangati klub sepak bola favoritnya akan menjadi hari yang bahagia. Akan tetapi siapa sangka? Kebahagiaan tersebut telah direnggut oleh tragedi yang menimpa.

 

***

 

Alfatihah untuk mereka yang menjadi korban tragedi Kanjuruhan.

 

Penulis: Fira Az Zahra