GURU DAN BOM ATOM

GURU DAN BOM ATOM

Menurut laporan AFP,  dalam detik.com, sekitar 140.000 orang tewas setelah Little Boy dijatuhkan Amerika di Hiroshima tepat hari ini, 6 Agustus 1945, 78 tahun lalu. Sebuah tragedi yang belakangan sangat disesali oleh sang pencipta bom atom tersebut, Julius Robert Oppenheimer melalui Proyek Manhattan. Setelah Hiroshima hancur berantakan, kota Nagasaki menjadi sasaran berikutnya pada 9 Agustus 1945.

sumber gambar: kompas.com

Mendengar berita luluh lantaknya Hiroshima dan Nagasaki, Kaisar Hirohito, pemimpin tertinggi Jepang kala itu langsung mengumpulkan para jenderal yang tersisa. Pertanyaan tak biasa terlontar dari Kaisar dengan masa kekuasaan terlama dalam sejarah Jepang itu. “Berapa jumlah guru yang tersisa?" tanya Hirohito. Pertanyaan itu tentu membuat bingung para jenderal.

Kaisar menyadari bahwa Jepang telah kalah dari Amerika soal beberapa hal. Untuk dapat mengejar Amerika, Jepang harus bangkit dengan belajar. Di sinilah, peran guru menjadi sangat krusial. Para jenderal kemudian mengumpulkan sekitar 45.000 guru dari seluruh Jepang untuk diberikan arahan oleh kaisar. Tentu saja itu adalah penghargaan luar biasa bagi guru. Gurulah yang menjadi tumpuan kebangkitan Jepang. Terbukti, hanya dalam waktu 20 tahunan, Jepang bangkit dan menjadi negara maju hingga sekarang.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia memang tidak pernah dibom atom. Barangkali, itulah yang membuat belum ada pemimpin tertinggi di negara ini yang mencari-cari guru sebagai tumpuan kebangkitan bangsa. Masih banyak guru yang tak cukup berharga hingga digaji seenaknya. Sampai-sampai di cukup banyak sekolah, masih ada guru yang harus cari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan. 

Terlepas dari itu semua, pengalaman Jepang dapat menjadi pelajaran penting tentang peran guru bagi kebangkitan bangsa. Proses regenerasi anak-anak bangsa akan selalu melewati Ibu/Bapak guru di sekolah. Oleh karena itu, perhatian terhadap guru juga perlu diseriusi betul-betul. Pemimpin bangsa harus hadir melibatkan guru dalam visi negara, bahkan sebagai tumpuan.

M. Imam