BILAL DI HUTAN BAKAU
BILAL DI HUTAN BAKAU
Penulis: Mahfuz Imam
“Ayo cepat! Aku sudah tidak sabar ingin melihat Kuntul dan Camar,” ucap Bilal.
“Sabar, kita menunggu teman yang lain,” kata Yarra.
Bilal dan teman-temannya sedang berkunjung ke hutan Bakau. Mereka berkunjung untuk melihat burung penghuni hutan bakau seperti burung Kuntul, Camar, Bangau, atau Cikalang. Hutan bakau memang menjadi salah satu tempat hidup berbagai jenis burung. Salah satunya adalah burung Kuntul dan Camar. Setelah cukup lama berjalan, mereka tidak menemukan Camar sama sekali. Karena merasa lelah, mereka pun beristirahat. Saat beristirahat di sisi jalan setapak hutan bakau. Bilal membuka tas, lalu mengambil sebuah permen. Ia buka bungkus permen itu, kemudian membuang bungkusnya sembarangan. Yarra yang melihat Bilal membuang sampah, langsung menegurnya.
“Bilal, sampahnya jangan dibuang sembarangan! Cepat ambil lagi,” tegur Yarra. Bilal tidak memedulikan teguran Yarra. Ia malah mengambil permen lagi dan membuang bungkusnya sembarangan.
“Bilal!!!” teriak Yarra.
Saat Yarra ingin mendatangi Bilal, tiba-tiba terdengar teriakan dari kejauhan.
“Ada Bangau!” teriak seseorang.
Ternyata itu adalah Dori. Teman Bilal dan Yarra. Mereka pun berlari menuju Dori. Betapa terkejutnya mereka ketika sampai di tempat Dori. Bangau yang mereka lihat ternyata bukan Bangau yang sedang bertengger, tetapi Bangau yang sudah mati tergeletak di antara akar Bakau. Kondisinya sangat mengenaskan. Bangau tergeletak dengan tubuh hampir menjadi tengkorak pada bagian kepala dan badan. Sebagian bulu warna putih masih menempel. Pada bagian perut terdapat gumpalan plastik bekas permen. Menyaksikan kondisi Bangau, Yarra merasa kasihan. Ia berpikir tentang hal apa yang menyebabkan Bangau seperti itu.

(Ilustrasi: Afrilliana Safitri RG, S.Pd.)
“Sepertinya penyebab kematian Bangau karena memakan bungkus permen itu,” ucap Yarra.
“Iya, mungkin Bangau kelaparan. Tidak ada makanan sehingga memakan plastik itu,” ucap Dori.
Mendengar ucapan Yarra dan Dori, Bilal langsung berlari menuju tempat ia membuang plastik permen. Ia menyadari bahwa apa yang dilakukannya salah. Sampah yang dia buang bisa termakan oleh hewan.
Bilal turun ke tempat ia membuang sampah. Ternyata banyak sekali sampah berserakan di sana. Ada sampah plastik makanan, botol minuman, plastik permen, sedotan plastik, dan sebagainya. Tanpa pikir panjang, Bilal mengambil satu per satu sampah dan mengumpulkannya. Rasa bersalah telah membuatnya peduli pada lingkungan.
Melihat Bilal sedang memungut sampah, teman-teman lainnya tergerak untuk membantu Bilal.
“Ayo kita bantu Bilal membersihkan tempat ini dari sampah!” ajak Yarra dan Dori kepada teman-temannya.
Mereka pun turun dan membantu Bilal mengumpulkan sampah. Melihat anak-anak membersihkan hutan bakau, pengunjung lain pun mengikuti. Mereka beramai-ramai turun ke bawah jembatan untuk mengambil sampah satu per satu dengan sukacita. Berkat kerja bersama, dalam waktu singkat, hutan bakau akhirnya terbebas dari sampah. Hutan bakau telah berubah dari yang kotor menjadi bersih alami.
Sebulan kemudian, Bilal dan kawan-kawan kembali berkunjung ke hutan bakau. Mereka tersenyum karena hutan bakau yang mereka kunjungi sudah bersih. Tidak hanya itu, terlihat banyak Kuntul, Bangau, Cikalang, dan Camar yang bertengger. Anak-anak sangat senang sekali menyaksikan burung-burung tersebut secara langsung di alam bebas. Tidak hanya burung, hutan bakau yang bersih juga mendatangkan ikan-ikan kecil dan kepiting yang berkejaran di antara akar bakau. Sejak saat itu, mereka berjanji akan selalu menjaga kebersihan lingkungan.