14 Oktober
14 Oktober
Sebuah cerpen karya: Nur Widi Apriani
Kelas IX-E Angkatan Lulus Tahun 2022
Air matanya tumpah, mengingat kejadian bulan lalu yang membuat seorang gadis remaja SMP ini menjadi pribadi yang tertutup. Baginya, arti dari kebahagiaan tidak selalu memiliki harta yang melimpah, hanya rasa sayang dan cinta dari seorang Ayah menurutnya sudah lebih dari cukup. Banyak yang bilang bahwa cinta pertama anak perempuan adalah Ayahnya, tetapi tidak dengan Clara Adisty Kirana.
Semua mulai dari awal bulan Oktober. Ketakutan, kesedihan, kekecewaan dan semua kepedihan yang dialami oleh Clara membuatnya sudah tidak percaya lagi yang namanya cinta. Buktinya saja, Ayah tega memperlakukan Ibu dengan perbuatan yang tidak pantas dan keji itu di depan anaknya. Hari saat Clara pulang sekolah, ia selalu saja mendapati lantai yang terdapat banyak pecahan piring, suara jeritan Ibu menahan rasa sakit akibat ulah Ayah yang tempramen, dan benda lain yang berserakan. Anak seusia Clara hanya bisa diam dan menangis. Jikalau berani membela atau membantah, tak segan-segan pula Ayahnya berbuat kasar seperti apa yang telah ia lakukan terhadap Ibunya.
Iri rasanya melihat teman-teman sebaya Clara memiliki keluarga yang harmonis. Jika dibandingkan dengannya, sepertinya Clara anak yang kurang beruntung. Ayah mudah sekali tempramen walau hanya kesalahan kecil, itu yang membuat Clara trauma dan terkadang ingin mencoba bunuh diri. Ibarat nila setitik, rusak susu sebelanga. Di mata Ayah, Clara selalu salah dan ia tidak pernah melihat sisi positif dari Clara. Padahal, Clara membantah bukan karena ia durhaka, justru karena Clara tidak tega melihat orang yang jelas tidak salah dikasari yaitu Ibunya sendiri.
Di saat anak remaja lainnya sedang menikmati masa muda, bermain dengan teman-teman, Clara justru memikirkan bagaimana ia dapat bekerja dan menghasilkan uang. Gadis itu tidak malu jika harus bekerja demi mendapatkan uang untuk Ibu dan biaya sekolah. Memang ini sudah kewajiban seorang anak untuk membantu orang tuanya. Ayah kalau marah sama sekali tidak memberikan uang untuk keperluan anak dan istrinya. Biarpun mati kelaparan ia sungguh tidak peduli.
Jam menunjukkan pukul lima pagi. Waktunya Clara bersembahyang serta mandi karena hari ini masuk sekolah. Setelah sarapan dan berpamitan, Clara berangkat ke sekolah menggunakan sepeda. Dari awal berangkat hingga jam pertama pelajaran dan seterusnya dimulai, Clara sungguh tidak bersemangat dan lesu karena memikirkan keadaan Ibunya di rumah. Ia sangat takut jika Ayah sewaktu-waktu tempramen seperti beberapa hari yang lalu. Di kelas Clara juga mempunyai teman dekat, teman yang selalu menemani dan menjadi rumah kedua Clara di kala ia gundah gulana dengan masalahnya. Ia adalah Devan Arkatama.
“I hope you feel what i felt when you shattered my soul.” Air matanya membanjiri jaket Devan yang ia kenakan mengingat lagu yang tengah populer dan menjadi lagu favoritnya berjudul I Love You So oleh The Walters. Entah mengapa lagu tersebut viral dan berpapasan dengan apa yang Clara alami akhir-akhir ini.
“Udah dong sedihnya, nanti cantiknya luntur lhoo. Besok tanggal 14 hari ulang tahunmu, kan?” ledek Devan seraya menghapus air yang jatuh membasahi pipi gembul Clara.
Clara tersenyum dan ia tidak tahu harus seberapa banyak berterima kasih kepada temannya itu. “Andai saja Ayah perhatian sama seperti Devan,” batinnya.
Cahaya rembulan malam menembus jendela kamar Clara yang serba pink itu. Clara tidak sabar menunggu jam 12 malam karena besok adalah hari spesialnya. Ya, hari ulang tahun pun tiba.
“Selamat ulang tahun anak Ibu yang cantik, terima kasih sudah kuat bertahan demi Ibu hingga sampai detik ini,” tutur Ibu.
Seketika air mata Ibu jatuh dengan sendirinya. Clara pun terharu karena Ibu tidak melupakan hari bahagianya itu. Sedangkan Ayahnya, entah pergi ke mana sejak kejadian beberapa hari yang lalu.
Hari ini hari libur, rencana Devan akan mampir ke rumah Clara bertujuan merayakan hari spesial ini untuk teman dekat sekaligus separuh jiwanya. Entah mengapa anak itu tidak ingin membuat Clara sedih. Ia akan selalu mencari cara bagaimana agar senyum manis itu selalu nampak di wajah Clara. Saat pesta kecil-kecilan itu berlangsung, datanglah Ayah Clara yang baru kembali sejak kejadian beberapa hari lalu. Ia memecahkan barang dan benda yang ada di sekitarnya, membuat keributan, serta mengacaukan pesta Clara itu. Kebahagiaan yang sudah di depan mata akhirnya sirna dalam sekejap. Tentu saja Devan sangat terkejut, baru kali ini melihat Ayah Clara sebrutal ini. Cepat-cepat Devan membawa Clara dan Ibunya pergi dari rumah, namun hasilnya nihil.
Ibu sudah tertangkap oleh Ayah di dapur dan tidak ada hitungan detik Ayah langsung mengambil pisau di atas meja makan dan langsung menusuk Ibu di depan Clara dan Devan. Clara menangis sejadi-jadinya.
“AYAH JAHATTT!.”
Dengan gemetar, Clara memukul punggung ayah menggunakan vas bunga yang terdapat di ruang tamu. Ia tidak terima Ibunya diperlakukan seperti itu. Devan pun langsung menelepon pihak berwajib atas kejadian ini, dan Ayah Clara segera diamankan. Di hari yang seharusnya berbahagia ini justru menjadi hari terburuk di bulan Oktober. Untuk sementara Clara tinggal di rumah tantenya sampai ia sudah benar-benar ikhlas.
“Besok pagi Ibumu di makamkan, Clara yang tabah dan kuat ya. Di sini ada Tante, Devan, dan yang lainnya akan selalu jaga Clara,” ucap Tante Clara mengusap kepala dan air mata Clara yang sedari tadi membasahi pipinya.
Sekarang Clara telah kehilangan sosok malaikat tak bersayap itu, tiada lagi yang membuatkan sarapan dan tempat berkeluh kesah. Yang sekarang dilakukan ia hanya bisa pasrah dan berdoa semoga almarhumah Ibunya tenang di sisi-Nya.
Setelah prosesi pemakaman Ibu Clara selesai, Devan tanpa sengaja memeluk gadis cantik yang merupakan belahan jiwanya itu. Ia juga sangat terpukul atas kepergian Ibu Clara. Betapa cepat waktu berlalu, tugas Devan sekarang adalah menggantikan posisi Ibu. Bagaimana pun caranya ia takkan biarkan wanitanya itu sedih. Clara tidak tahu harus bagaimana, ia seperti mati rasa. Tetapi, ia sangat bersyukur memiliki teman sekaligus pengganti sosok Ibu yang selalu setia menemani dirinya. Clara menyadari bahwa tidak semua orang seperti Ayahnya, tapi nyatanya Devan berbeda. Sejak bersamanya, perlahan Clara mulai membuka hati dan menyetujui bahwa cinta itu nyata. Satu harapan dibenak Clara, semoga selalu bersama dengan Devan sampai kapan pun.